Ragamutama.com – Sentimen negatif kembali mewarnai bursa saham Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, 3 April 2025. Penyebabnya, pemerintah AS mengumumkan implementasi kebijakan tarif baru yang mencakup 10 persen untuk semua mitra dagang. Langkah ini diperburuk dengan pengenaan tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara yang mengalami defisit perdagangan dengan AS.
Kebijakan tersebut langsung memicu kekhawatiran mendalam di kalangan investor, terutama terkait potensi perang dagang global dan eskalasi inflasi. Kombinasi ini menimbulkan risiko perlambatan ekonomi yang signifikan.
Akibatnya, indeks S&P 500 mengalami penurunan tajam, melebihi 11 persen dari puncak yang dicapai pada bulan Februari. Secara teknis, pergerakan ini menempatkan indeks tersebut dalam fase koreksi, yang didefinisikan sebagai penurunan 10 persen atau lebih dari titik tertinggi sebelumnya.
Di tengah turbulensi pasar ini, Warren Buffett, seorang investor yang disegani, kembali menyampaikan pesan penting tentang perlunya ketenangan dan mempertahankan perspektif jangka panjang dalam berinvestasi.
Pentingnya Tetap Tenang
Seperti yang dilaporkan oleh CNBC, dalam surat tahunannya kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 2017, Buffett menekankan ketidakmungkinan memprediksi seberapa dalam penurunan harga saham dalam jangka pendek.
Untuk menggambarkan poinnya, ia mengutip penggalan puisi klasik “If” karya Rudyard Kipling. Puisi tersebut menyoroti pentingnya ketenangan dan keteguhan hati, terutama saat menghadapi situasi yang penuh tekanan.
“Jika kamu bisa tetap tenang saat orang di sekitarmu panik… Jika kamu bisa menunggu dan tidak lelah menanti… Jika kamu bisa percaya pada dirimu saat semua orang meragukanmu… Maka dunia dan segala isinya akan menjadi milikmu.”
Koreksi Pasar adalah Hal Wajar
Buffett menegaskan bahwa fluktuasi pasar, termasuk penurunan tajam, adalah bagian tak terpisahkan dari siklus investasi. Ia memberikan contoh krisis keuangan global pada tahun 2007-2009, di mana indeks S&P 500 kehilangan lebih dari separuh nilainya. Kendati demikian, pasar terbukti mampu bangkit dan pulih sepenuhnya.
Menurut data dari Baird Private Wealth Management, sejak tahun 1980, indeks S&P 500 telah mengalami 21 kali penurunan sebesar 10 persen atau lebih. Rata-rata penurunan dalam setahun mencapai 14 persen.
“Lampu lalu lintas bisa saja berubah dari hijau menjadi merah tanpa melewati kuning,” ungkap Buffett, mengilustrasikan kecepatan perubahan kondisi pasar.
Fokus pada Investasi Jangka Panjang
Terlepas dari apakah penurunan bersifat ringan atau berkepanjangan, Buffett menyarankan investor untuk tetap berpegang pada strategi investasi jangka panjang dan melanjutkan investasi secara konsisten.
Ia melihat periode penurunan sebagai peluang yang sangat baik, mengingat sejarah menunjukkan bahwa pasar selalu pulih. Data dari Hartford Funds menunjukkan bahwa sejak tahun 1928, rata-rata pasar bearish (penurunan 20 persen atau lebih) berlangsung kurang dari 10 bulan.
Dalam perspektif investasi jangka panjang, periode tersebut relatif singkat.
“Saat Hujan Emas, Bawalah Ember”
Meskipun secara emosional tidak mudah menyaksikan penurunan nilai portofolio, Buffett mengingatkan bahwa penurunan harga saham memberikan kesempatan untuk membeli aset berkualitas dengan harga yang lebih menarik.
“Kesempatan besar datangnya jarang. Saat hujan emas, bawalah ember, bukan cangkir kecil,” tulisnya dalam surat tahunan pada tahun 2009.
Ini berarti, ketika peluang signifikan muncul, penting untuk memanfaatkannya secara maksimal.