Ragamutama.com, Jakarta – Suasana berbeda mewarnai pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia menjelang libur panjang Lebaran kali ini. Jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, dinamika pasar modal menunjukkan karakteristik yang cukup unik. Menurut pengamatan Oktavianus Audi, seorang analis pasar modal dari Kiwoom Sekuritas, beberapa faktor kunci berperan dalam membentuk tren pasar saat ini, termasuk tekanan jual dari investor asing, penurunan daya beli masyarakat, serta meningkatnya risiko ekonomi global.
“Dibandingkan dua tahun terakhir, momentum menjelang Lebaran tahun ini terasa berbeda dari segi sentimen pasar,” ungkap Audi saat dihubungi pada hari Sabtu, 29 Maret 2025.
Audi menyoroti beberapa faktor yang patut diperhatikan. Di antaranya adalah arus modal asing keluar atau outflow yang mencapai angka signifikan, yaitu Rp 29,9 triliun sepanjang kuartal pertama tahun ini. Selain itu, deflasi yang terjadi pada bulan Februari turut menekan kemampuan belanja masyarakat. Lebih lanjut, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi global turut menambah kompleksitas situasi pasar.
Di tengah kondisi pasar yang menantang ini, sejumlah saham justru menunjukkan peningkatan volume perdagangan yang signifikan dan menjadi target pembelian investor. Saham-saham tersebut berasal dari sektor perbankan, teknologi, dan ritel, terutama saham-saham yang sebelumnya mengalami tekanan sepanjang tahun 2025.
“Dalam kurun waktu sebulan terakhir, saham-saham blue chip seperti BMRI (30,9 ribu investor baru), BBCA (29,6 ribu), dan BBRI (21 ribu) menjadi pilihan utama para investor. Sementara itu, di sektor ritel, saham AMRT mencatat penambahan investor ritel terbanyak, yaitu 4,5 ribu,” jelasnya.
Menurut Audi, terdapat tiga faktor utama yang menjadi pemicu kenaikan harga saham dan peningkatan jumlah investor pada saham-saham tersebut. “Valuasi pasar yang saat ini berada pada level diskon, pembagian dividen yang menarik, serta kinerja perusahaan yang positif hingga Februari 2025, terutama di sektor perbankan, menjadi daya tarik utama bagi para investor,” katanya.
Namun, Audi juga mengingatkan para investor mengenai potensi terjadinya koreksi pasar setelah periode Lebaran, berdasarkan tren historis yang terjadi dalam empat tahun terakhir. “Berkaca pada pola yang terjadi sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung mengalami koreksi setelah libur Lebaran. Sebagai contoh, pada tahun 2024, IHSG mengalami penurunan sebesar 3,64 persen di bulan berikutnya, sementara pada tahun 2023, penurunannya mencapai 4,08 persen,” papar Audi. Menurutnya, faktor utama yang menyebabkan tren ini adalah terbatasnya informasi yang tersedia selama periode libur bursa dan meningkatnya volatilitas pasar.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap risiko-risiko tambahan yang berpotensi memperburuk kondisi pasar tahun ini. “Kami memperkirakan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun yang lebih menantang karena adanya sentimen eksternal, seperti penerapan tarif baru oleh Donald Trump pada awal bulan April,” tuturnya.
Pilihan Editor: Ferry Latuhihin: Kebijakan Ekonomi Indonesia Koplaknomics