Jakarta, RAGAMUTAMA.COM – Gelombang gambar AI bergaya Studio Ghibli tengah menjadi sorotan di media sosial. Teknologi ini memungkinkan pengguna mengubah foto pribadi atau meme menjadi ilustrasi khas Hayao Miyazaki, pendiri Ghibli. Namun, tren ini kembali membangkitkan kritik lama Miyazaki terhadap AI, terutama dalam dunia animasi.
Sebuah video dari 2016 kembali mencuat, menampilkan reaksi keras Miyazaki terhadap animasi buatan AI. Dalam rekaman tersebut, ia menyebut teknologi ini sebagai “penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.” Sikap tegasnya semakin relevan seiring berkembangnya AI dalam industri kreatif.
1. Miyazaki menolak AI dalam animasi
Sikap Miyazaki terhadap AI sudah lama diketahui. Dalam dokumenter Never-Ending Man: Hayao Miyazaki (2016), sekelompok pengembang AI menampilkan demo animasi kepada dirinya dan produser Toshio Suzuki. Animasi tersebut memperlihatkan sosok zombie bergerak dengan cara yang tak lazim.
Seorang pengembang menjelaskan bahwa AI dapat menciptakan gerakan yang mustahil dibayangkan manusia. Namun, Miyazaki merespons dengan cerita pribadi.
“Setiap pagi, saya melihat teman saya yang memiliki disabilitas. Sangat sulit baginya hanya untuk melakukan tos. Lengannya dengan otot yang kaku tidak bisa menjangkau tanganku. Sekarang, memikirkan dirinya, saya tak bisa melihat ini dan menganggapnya menarik,” katanya, dikutip dari The Independent, Sabtu (29/3/2025).
Ia kemudian melontarkan kritik tajam terhadap proyek tersebut.
“Siapa pun yang menciptakan ini tak tahu apa itu rasa sakit. Saya sangat muak,” ujarnya.
Setelah itu, ia mengatakan bahwa teknologi semacam ini merupakan bentuk penghinaan terhadap kehidupan.
2. Tren AI Ghibli picu kontroversi
Viralnya tren gambar AI bergaya Ghibli semakin memperbesar perdebatan tentang etika kecerdasan buatan dalam seni. Bahkan, Gedung Putih ikut mengunggah gambar hasil AI pada 28 Maret 2025, yang memperlihatkan seorang perempuan asal Republik Dominika menangis setelah ditangkap oleh ICE.
Gambar ini telah dilihat lebih dari 45 juta kali di X (sebelumnya Twitter), tetapi banyak pengguna mengecamnya sebagai sesuatu yang “kejam” dan “mengerikan.” Kritik ini menyoroti bahwa penggunaan AI dalam seni tak hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga menyangkut nilai-nilai kemanusiaan.
Di sisi lain, CEO OpenAI, Sam Altman, turut meramaikan tren ini dengan mengganti foto profilnya menjadi ilustrasi AI bergaya Ghibli. Langkah ini justru semakin memicu perdebatan tentang bagaimana AI mengambil inspirasi dari karya seniman manusia tanpa izin.
3. AI dan ancaman bagi gaya seni Ghibli
Sebelumnya, AI juga telah menimbulkan polemik di kalangan penggemar Ghibli. Pada Oktober 2024, sebuah trailer buatan AI untuk Princess Mononoke (1997) sempat viral dan menuai kritik. Trailer tersebut menggunakan suara dari film asli, tetapi mengganti animasi tangan khas Ghibli dengan CGI yang menyerupai live-action.
Kasus ini semakin mempertegas kekhawatiran bahwa AI dapat menggerus esensi seni tradisional. Miyazaki sendiri telah menyatakan bahwa ia tak akan pernah menggunakan teknologi ini dalam karyanya.
“Jika kalian ingin membuat hal-hal menyeramkan, silakan saja. Saya tak akan pernah ingin memasukkan teknologi ini ke dalam karya saya,” katanya dalam video yang kini kembali viral, dikutip dari The Times of India, Sabtu (29/3).
Polemik AI dalam dunia seni masih akan terus berlanjut. Namun, bagi Miyazaki, seni adalah ekspresi manusia yang tak bisa digantikan oleh algoritma.