Ragamutama.com, Jakarta – Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, melaporkan penurunan signifikan tingkat hunian hotel selama libur Lebaran 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan ini, menurut Hariyadi, terjadi hampir di seluruh Indonesia, terutama di destinasi wisata populer seperti Bali, Solo, dan Yogyakarta. “Berdasarkan pengecekan saya, rata-rata terjadi penurunan sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya saat ditemui di kawasan Widya Chandra, Jakarta, Selasa, 1 April 2025.
Selain penurunan jumlah pemesanan, terdapat pula pergeseran pola pemesanan. Hariyadi mencatat, masyarakat baru memesan kamar menjelang H-2 Lebaran. “Masa menginap pun lebih singkat, rata-rata hanya 4 atau 5 hari, tidak sampai 7 hari seperti biasanya,” tambahnya.
Ia menduga, penurunan ini disebabkan oleh melemahnya perekonomian nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Jika tren ini berlanjut, Hariyadi khawatir akan berakibat fatal, termasuk potensi PHK massal. “Tentu, hal ini sangat bergantung pada langkah-langkah pemerintah selanjutnya,” ujarnya.
Sebagai contoh nyata, sudah tercatat 150 karyawan di industri perhotelan yang terkena PHK akibat penutupan dua hotel di Bogor, Jawa Barat. Kedua hotel ini hanyalah sebagian kecil dari dampak melemahnya daya beli masyarakat.
Hariyadi memprediksi penutupan hotel akan terus terjadi jika pemerintah tidak segera memberikan stimulus ekonomi, khususnya dengan melepaskan anggaran yang sebelumnya diefisiensikan. “Pelepasan anggaran ini penting untuk menggerakkan kembali perekonomian. Apalagi di kuartal pertama ini, pemerintah terkesan belum maksimal dalam mengeksekusi belanja anggaran,” tegas Hariyadi.
Anjloknya daya beli masyarakat tercermin dari deflasi yang terjadi di awal 2025. Pada Februari, terjadi penurunan harga sebesar 0,1 persen secara tahunan, merupakan tingkat deflasi terendah sejak Januari 2000 (1,1 persen).
Mengutip laporan Tempo berjudul ‘Mengapa Ekonomi Lebaran 2025 Lesu’, Dzulfian Syafrian dari Institute for Development of Economics and Finance menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah penurunan kualitas pekerjaan. Meskipun jumlah lapangan kerja bertambah, banyak yang bersifat informal dengan pendapatan tidak tetap. “Kondisi ini membuat pendapatan rumah tangga menjadi tidak menentu, terutama saat Lebaran ketika konsumsi biasanya meningkat,” tuturnya pada Selasa, 25 Maret 2025.
Pilihan Editor: Hotel di Bandung Kurangi Pekerja Sejak Februari Terdampak Efisiensi Anggaran Pemerintah