Jakarta, RAGAMUTAMA.COM – Elon Musk resmi menjual platform media sosial X ke perusahaan kecerdasan buatan miliknya, xAI, dalam transaksi senilai 45 miliar dolar AS (sekitar Ro745 triliun). Meski lebih besar dari harga pembelian X pada 2022, kesepakatan ini mencakup utang sebesar 12 miliar dolar AS (sekitar Rp198 triliun).
Musk mengumumkan transaksi ini pada Jumat (27/3/2025) melalui akun X pribadinya. Ia menyebut bahwa akuisisi ini memberi X valuasi sebesar 33 miliar dolar AS (sekitar Rp546 triliun).
“xAI dan X memiliki masa depan yang saling terkait. Hari ini, kami resmi mengambil langkah untuk menggabungkan data, model, komputasi, distribusi, dan talenta,” tulisnya, dikutip dari CNN Internasional, Sabtu (29/3/2025).
1. Musk integrasikan X dengan xAI untuk memperkuat AI
Kesepakatan ini mempererat hubungan antara X dan xAI, yang sebelumnya telah terjalin melalui integrasi chatbot Grok ke dalam platform media sosial tersebut. Musk mengatakan bahwa langkah ini akan membuka potensi luar biasa dengan menggabungkan kemampuan AI canggih xAI dengan jangkauan luas X.
Meskipun belum ada perubahan besar yang diumumkan, Musk mengatakan bahwa penggabungan ini akan memberikan pengalaman yang lebih cerdas dan bermakna. Ia juga menyebut bahwa nilai gabungan kedua perusahaan kini mencapai 80 miliar dolar AS.
Karena kedua perusahaan bersifat tertutup dan berada di bawah kendali Musk, transaksi ini kemungkinan besar merupakan pertukaran saham. Para pemegang saham X diperkirakan akan menerima saham xAI sebagai kompensasi. Beberapa investor utama seperti Andreessen Horowitz, Sequoia Capital, Fidelity Management, Vy Capital, dan Saudi Arabia’s Kingdom Holding Co turut terlibat dalam restrukturisasi kepemilikan, menurut laporan CNBC Internasional.
2. X pulih, iklan dan investor mulai kembali
Setelah sempat mengalami penurunan valuasi, X mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada Oktober 2024, Fidelity memperkirakan bahwa nilai X telah merosot hampir 80 persen sejak diakuisisi Musk. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, valuasinya mulai meningkat, sebagian besar berkat peran xAI.
Sejumlah pengiklan besar yang sebelumnya hengkang juga mulai kembali berinvestasi.
“Amazon dan Apple dikabarkan kembali menjalankan kampanye iklan di X,” tulis CNN Internasional.
Stabilitas ini turut membantu sekelompok pemegang obligasi menjual miliaran dolar AS dalam utang X pada harga 97 sen per dolar.
Namun, masih ada pertanyaan mengenai alasan xAI menilai X lebih rendah dibandingkan dengan potensi valuasi yang bisa diperoleh dari investor eksternal. Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa X sempat dalam pembicaraan untuk menggalang dana dengan valuasi 44 miliar dolar AS, meski hasil akhirnya belum diketahui.
3. Musk perkuat posisi di industri AI dan politik
Musk semakin agresif memperkuat pengaruhnya di sektor kecerdasan buatan. xAI kini bersaing langsung dengan OpenAI, perusahaan yang ia dirikan pada 2015 sebelum akhirnya hengkang. Baru-baru ini, Musk juga memimpin upaya untuk mengakuisisi OpenAI dengan penawaran hampir 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.656 triliun), yang semakin memperlihatkan rivalitasnya dengan CEO OpenAI, Sam Altman.
xAI juga tengah membangun superkomputer raksasa bernama Colossus di Memphis, Tennessee, untuk melatih model AI mereka.
“Kami ingin memahami hakikat sejati alam semesta,” kata Musk mengenai misi utama xAI.
Di luar bisnisnya, Musk juga semakin aktif dalam pemerintahan. Setelah menyumbangkan hampir 300 juta dolar AS (sekitar Rp4,9 triliun) untuk kampanye Donald Trump, ia kini menjabat sebagai Kepala Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE). Posisi ini memberinya wewenang untuk memangkas anggaran dan menghapus berbagai regulasi, yang berpotensi menguntungkan bisnisnya, termasuk Tesla, SpaceX, dan xAI.
Penggabungan X dengan xAI memunculkan spekulasi mengenai strategi jangka panjang Musk. Dengan mengendalikan platform media sosial sekaligus teknologi AI, ia dapat mempercepat pengembangan model AI terbaru dan mendistribusikannya ke audiens yang luas melalui X. Namun, masih belum jelas sejauh mana langkah ini akan menguntungkan xAI dalam persaingan ketat dengan OpenAI dan perusahaan teknologi lainnya.