Semasa di Bandung setahun silam, ada banyak taman yang sudah saya lewati ketika berlari. Namun taman kota yang satu ini memiliki kesan yang berbeda.
Saya baru sekali melintas di depannya dan langsung penasaran. Kala itu, ada banyak orang, termasuk anak-anak, yang menikmati sore hari di bawah rimbun pepohonan. Saya juga melihat lintasan jogging dan makin bertanya-tanya lagi.
Taman Kota 1 Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan. Ada apa di dalamnya?
Lalu, minggu pertama bulan Februari berlalu. Keinginan menjelajahi Taman Kota 1 yang disebut memiliki luas sekitar 2,5 hektar dengan 2000 batang pohon di dalamnya, masih saja tertunda.
Jadi Sabtu kemarin, saya tertidur lebih cepat. Terjaga di pukul 2 dinihari tapi segera sadar ada yang lebih penting disiapkan untuk sebentar lagi, maka saya mencoba tidur lagi. Tiga jam kemudian saya terjaga lagi, bangun dan bersiap-siap.
Pukul 06.10 WIB, dengan outfit yang supportif, saya bergerak dari Nusa Loka, melintasi jalan raya yang mulai ramai, menuju Taman Kota.
Saya kini mengerti, mengapa kendaraan beradu cepat sepagi ini. Lintasannya yang lebar dan relatif lurus adalah pengkondisinya. Ditanbah lagi, tak ada jalur khusus bagi pesepeda, seperti yang kita bisa temukan di Jogja, misalnya.
Sesudah berlari sekitar 2 kilometer, saya akhirnya tiba di depan gerbang Taman Kota 1. Halamannya mulai ramai dengan mobil dam motor para pengunjung.
Dengan menyusuri lintasan jogging yang mengitari taman, saya menandai fasilitas yang tersedia.
Selain pepohonan rimbun yang menjaganya selalu teduh sepanjang waktu, ada juga fasilitas olahraga bagi mereka yang ingin melatih mengangkat beban.
Ada taman bermain anak, fasilitas bermain skateboard, serta jalanan dari kerikil untuk refleksi, serta beberapa tempat duduk.. Ada fasilitas MCK, namun dari dua yang saya datangi, tak tersedia air bersih. Kemudian sebuah jembatan gantung dan papan peringatan.
Beberapa orang petugas kebersihan masih menyapu. Taman ini memang terawat. Sepertinya saya akan lebih sering ke sini.
Berlari di lintasan jogging yang mencapai 940 meter sekali putaran di bawah rimbun pepohonan, terpisah dari bising ramai kendaraan beserta asap yang disemburkan adalah alasan utamanya.
Tempat ini memang tidak ideal bagi pejogging, sebab lintasannya yang kecil membuat kita harus berbagi ruang dengan para pejalan kaki. Namun, di sebuah kota dengan pagi yang ngebut, bahkan di akhir pekan, taman seperti ini adalah sejenis oase bagi publik.
Hal menariknya yang lainnya yang menghidupi Taman Kota 1 adalah wajah dari publik.
Publik yang saya maksud adalah orang-orang yang datang dan menikmati suasana di sini. Sependek pengamatan luar, mereka mengesankan bermacam-macam kehadiran.
Ada yang bersama keluarga intinya, ayah, ibu, serta dua orang anak. Ada yang bersama keluarga besarnya, Ibu, tante, anak-anak, juga keponakan. Ada yang datang sebagai pasangan baru, yang istrinya sedang hamil besar. Ada yang sebagai sepasang tanpa membawa anak-anak.
Ada juga sepasang yang sepuh, berjalan beriringan menyusuri lintasan jogging. Ada yang berjalan cepat, dengan kabel putih headset melingkar dari gawai ke telinga. Ada yang terus membuka sepatu dan kaos kaki, lalu berjalan pelan menyusuri lintasa kerikil.
Ada yang sedang jogging, seorang diri seperti saya tapi sembari memegang gawai di tangan. Ada suami istri dengan dua anak yang bergegas, lalu istrinya berhenti di sebuah pohon besar. Ia berpose dan difoto suaminya.
Lalu, di sebuah pojok, ada sekelompok orang tua yang sedang bermeditasi.
Dimana-dimana, taman kota seharusnya tak semata menjadi penyumbang bagi keberadaan ruang hijau. Yang sama pentingnya adalah menjadi tempat yang setara bagi semua golongan usia, etnisitas, ekonomi dan sosial. Apalagi di kota-kota terkapitalisasi kedalam pusat-pusat perbelanjaan supermodern dan pemukiman kelas atas, taman kota seharusnya menjadi ruang jumpa yang meleburkan sekat-sekat.
Pendek kata, Taman Kota adalah perlambang dari negeri yang mampu mengelola keberagaman.
Jadi, sesudah mencapai 5 kilometer, saya berhenti. Saatnya melanjutkan proses pendinginan dengan berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa titik kedalam foto.
Sudah lewat pukul 7, waktunya kembali. Tak lama kemudian, seorang pengojek online datang. Saya pulang dengan rencana berikutnya di kepala.
Sejurus saya teringat Airmadidi, Manado, Tondano, Manokwari, Ternate dan Makassar. Kemudian Palangkaraya, Sampit, dan Kapuas. Lalu Palembang. Juga Wates, Jogja, Surakarta, Bogor dan Bandung.
Terlalu sedikit yang diceritakan.