Martabak Tokyo: Sensasi Kuliner Indonesia yang Viral, Harus Pesan Sehari Sebelumnya!

- Penulis

Rabu, 2 April 2025 - 14:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tokyo, dengan segala gemerlap dan dinamikanya, tak pernah kehilangan pesonanya. Bagi pelancong dan warga lokal Jepang sekalipun, kota ini menawarkan sejuta pengalaman unik. Salah satu aspek yang tak boleh dilewatkan adalah kekayaan kulinernya. Dan bagi mereka yang merindukan sentuhan rasa Indonesia, Cinta Jawa Cafe di jantung Shibuya adalah destinasi yang sangat direkomendasikan.

Kisah perjalanan saya dimulai di Fukuoka, kota di selatan Jepang yang termasyhur dengan kelezatan ramen tonkotsu-nya. Namun, kali ini tujuan saya adalah Tokyo, bukan untuk memanjakan lidah dengan cita rasa lokal, melainkan untuk bernostalgia dengan hidangan Indonesia di Cinta Jawa Cafe.

Penerbangan dari Bandara Fukuoka menuju Haneda menjadi pilihan yang lebih praktis dibandingkan Narita, berkat lokasinya yang lebih strategis, lebih dekat ke pusat kota Tokyo. Penerbangan yang nyaman ini hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam. Berkat maskapai domestik yang efisien, bagasi saya segera tiba, dan saya bergegas menuju area kedatangan Terminal 1, tempat keponakan saya, yang telah menetap di Tokyo selama beberapa tahun, menjemput.

“Karena sudah larut, sebaiknya kita bersantap malam dulu di Shibuya, sebelum menuju hotel,” usul keponakan saya. Ia merekomendasikan sebuah restoran yang menyajikan hidangan Indonesia. Sebuah tawaran yang langsung saya sambut dengan antusias, setelah lebih dari seminggu menikmati hidangan Jepang di pulau Kyushu.

Dari Haneda, transportasi yang paling praktis menuju Shibuya adalah kereta. Kami menaiki Keikyu Line menuju Shinagawa, lalu berpindah ke JR Yamanote Line yang mengarah langsung ke Stasiun Shibuya. Perjalanan yang nyaman ini memakan waktu kurang lebih 40 menit, hingga akhirnya kami tiba di Shibuya—pusat denyut nadi kehidupan Tokyo yang dihiasi gemerlap lampu neon, layar-layar raksasa, dan lautan manusia yang tak pernah berhenti bergerak.

Saat keluar dari stasiun, udara malam Tokyo terasa menyegarkan. Walaupun jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam, suasana di Shibuya tetap meriah. Karena ingin segera tiba di restoran, kami memutuskan untuk menggunakan taksi online. Tarifnya cukup bersahabat, tak sampai 1.000 yen, mengingat jarak yang tidak terlalu jauh.

Setelah sekitar 10 menit berkendara, akhirnya kami tiba di Cinta Jawa Cafe. Restoran ini berlokasi di area yang relatif tenang, memberikan kesan eksklusif meskipun tetap mudah dijangkau. Dari luar, desainnya tampak sederhana, namun begitu melangkah masuk, atmosfer khas Indonesia langsung terasa menyambut.

Interior ruangan dipenuhi dengan ornamen tradisional yang memanjakan mata, seperti kain batik yang menghiasi dinding, ukiran kayu yang indah, serta wayang golek dan umbul-umbul merah putih. Pencahayaan ruangan yang temaram menciptakan nuansa yang hangat dan akrab. Alunan musik gamelan yang lembut terdengar di latar belakang, semakin memperkuat nuansa Nusantara.

Baca Juga :  Field Trip Seru ke NuArt Sculpture Park Bandung, Seni yang Hidup! #ArtAdventure

Saat kami tiba, restoran tampak ramai dipenuhi pengunjung.

Kebanyakan adalah warga Indonesia yang berdomisili di Jepang, mulai dari mahasiswa, pekerja, wisatawan, hingga warga lokal Jepang yang penasaran dengan cita rasa masakan Indonesia. Kami harus menunggu sekitar 10 menit sebelum akhirnya mendapatkan tempat duduk. Bahkan setelah kami tiba, masih banyak pelanggan lain yang rela mengantri. Mayoritas memang didominasi oleh pengunjung asal Indonesia.

Setelah duduk, kami segera membuka menu yang menawarkan beragam hidangan khas Indonesia yang menggugah selera. Mulai dari nasi goreng, gado-gado, soto ayam, hingga rendang yang legendaris, semuanya tersedia. Pilihan saya jatuh pada nasi rames yang kaya akan lauk. Kami juga memesan es cendol dan kelapa muda yang menyegarkan.

Menariknya, dalam menu juga tercantum martabak manis dengan harga 2200 Yen, namun dengan catatan hanya tersedia di cabang Hiratsuka dan Yokohama, serta harus dipesan sehari sebelumnya.

Sambil menunggu pesanan tiba, saya mengamati sekeliling. Para pengunjung tampak menikmati hidangan mereka dengan penuh selera, ada yang bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, ada pula yang berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Para pelayan yang ramah melayani dalam dua bahasa, memastikan setiap tamu mendapatkan pelayanan terbaik. Mereka mengenakan seragam atasan berwarna cokelat tua dengan celana panjang hitam, serta ikat kepala bermotif batik. Namun, ada juga yang memilih mengenakan setelan serba hitam.

Saat pesanan kami diantarkan, aroma rempah yang kuat langsung menyeruak, membangkitkan selera makan. Hidangan saya disajikan di atas piring yang cantik, sudah terbayang kelezatannya.

Nasi putih yang ditaburi bawang goreng disajikan di tengah piring, rendang daging yang menggoda di sisi kiri bersama potongan nangka muda yang sering menjadi pelengkap gudeg atau sayur lodeh. Di bagian atas, terdapat tumisan kacang panjang dengan tahu, serta dua jenis sambal—merah dan hijau—di sisi kanan piring.

Hidangan ini benar-benar mencerminkan kekayaan rasa masakan Indonesia, dengan kombinasi rempah yang kuat, tekstur yang beragam, dan cita rasa yang menggugah selera. Bagaimana rasanya? Apakah sesuai dengan ekspektasi masakan Indonesia di luar negeri? Setelah dicicipi, rasanya memang tidak mengecewakan.

Sambal yang disajikan memiliki tingkat kepedasan yang pas, tidak terlalu menyengat namun tetap memberikan sensasi khas masakan Indonesia.

Rendangnya terasa empuk dengan bumbu yang meresap sempurna, perkedelnya lembut di dalam dengan bagian luar yang sedikit garing, dan tempe orek dengan rasa manis-gurihnya mengingatkan pada masakan rumahan.

Untuk minuman, saya memilih es kelapa muda yang sederhana namun menyegarkan, sementara keponakan saya memesan es cendol yang disajikan dengan santan dan gula merah, memberikan rasa yang autentik.

Baca Juga :  8 Tempat Makan Romantis untuk Merayakan Valentine di Jakarta

Selain es kelapa muda, tersedia juga dawet ayu, jus alpukat, dan banyak pilihan lainnya. Sebenarnya rasa kelapa mudanya biasa saja. Tetapi teknik penyajiannya memang menggugah selera.

Setelah merasa kenyang dan puas menikmati hidangan, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Dari Cinta Jawa Cafe, kami kembali ke Stasiun Shibuya dengan menggunakan taksi online. Meskipun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 malam, Shibuya tetap ramai dengan keramaian khasnya—orang-orang berjalan cepat, lampu neon yang berkilauan, dan lalu lintas yang sibuk.

Setibanya di Stasiun Shibuya, kami segera menuju jalur kereta yang akan membawa kami ke hotel di kawasan Nishikasai. Kami pertama-tama naik Hanzomon line dan kemudian berpindah ke Tozai Line di Stasiun Kudhansita.

Tokyo memiliki sistem transportasi yang sangat efisien, bahkan di larut malam pun masih ada kereta yang beroperasi.

Di dalam kereta, saya masih membayangkan rasa rendang yang baru saja saya nikmati. Walaupun tidak seenak di restoran favorit saya di tanah air, tapi cukup untuk mengobati kerinduan akan kuliner Indonesia setelah sekian lama mengembara.

Sensasi makan di Cinta Jawa Cafe benar-benar membuat saya merasa seolah-olah sedang berada di Indonesia, bukan di tengah hiruk pikuk kota metropolitan Jepang.

Perjalanan kali ini bukan hanya tentang menikmati kuliner, tetapi juga tentang merasakan kembali kehangatan rumah meskipun sedang berada jauh di negeri orang. Masakan Indonesia memang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi para perantau yang merindukan cita rasa kampung halaman.

Cinta Jawa Cafe di Shibuya membuktikan bahwa masakan Indonesia bisa diterima dengan baik di luar negeri. Mulai dari suasana, pelayanan, hingga cita rasa makanannya, semuanya mampu menghadirkan pengalaman yang autentik. Harga makanan di sini juga relatif terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan standar harga restoran di Tokyo.

Bagi siapa pun yang sedang berada di Tokyo dan ingin menikmati masakan Indonesia, Cinta Jawa Cafe adalah tempat yang wajib dikunjungi. Lokasinya strategis, suasananya nyaman, dan yang terpenting, makanannya benar-benar menggugah selera. Namun, jangan lupa jika ingin menikmati martabak manis, Anda harus mengunjungi cabang Hiratsuka atau Yokohama dan memesannya terlebih dahulu.

Setelah perjalanan yang cukup panjang dari Fukuoka ke Tokyo, ditambah petualangan kuliner di malam hari, akhirnya kami tiba di hotel. Rasa lelah mulai terasa, tetapi kepuasan setelah menyantap masakan Indonesia tetap membekas. Malam itu, saya tidur dengan perut kenyang dan hati senang, siap untuk menjelajahi Tokyo keesokan harinya.

Berita Terkait

27 Ide Menu Makan Malam Keluarga: Enak, Praktis, Anti Ribet!
Jelajah Kuliner Lebaran 2025: 5 Pilihan Lezat Dekat Stadion Manahan Solo
Supermarket Inggris Perang Diskon Hadapi Lonjakan Harga Pangan
Rosan Roeslani Diskusikan Isu Pangan dengan Menteri dan Pengusaha Ternama
11 Kuliner Pacitan Otentik: Wajib Coba, Bikin Nagih!
April Mencekam: Ribuan Harga Makanan & Minuman di Jepang Meroket!
Lebaran 2025: Erick Thohir dan Dasco Hadiri Open House Zulhas
Harga Kelapa Melonjak Tajam Jelang Lebaran: Pasokan Menipis Akibat Ekspor Tinggi

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 04:08 WIB

27 Ide Menu Makan Malam Keluarga: Enak, Praktis, Anti Ribet!

Rabu, 2 April 2025 - 14:40 WIB

Martabak Tokyo: Sensasi Kuliner Indonesia yang Viral, Harus Pesan Sehari Sebelumnya!

Rabu, 2 April 2025 - 13:03 WIB

Jelajah Kuliner Lebaran 2025: 5 Pilihan Lezat Dekat Stadion Manahan Solo

Rabu, 2 April 2025 - 10:11 WIB

Supermarket Inggris Perang Diskon Hadapi Lonjakan Harga Pangan

Rabu, 2 April 2025 - 09:27 WIB

Rosan Roeslani Diskusikan Isu Pangan dengan Menteri dan Pengusaha Ternama

Berita Terbaru

finance

Wall Street Terjun Bebas: Tarif Trump Ancam Resesi Global!

Jumat, 4 Apr 2025 - 05:19 WIB

travel

Kisah Inspiratif: Tips Terbang ke Luar Negeri

Jumat, 4 Apr 2025 - 04:39 WIB