JAKARTA, RAGAMUTAMA.COM – Momen libur Lebaran kerap dimanfaatkan banyak orang untuk pulang ke kampung halaman atau sekadar berlibur ke luar kota.
Bagi Anda yang melakukan perjalanan bersama anak atau balita, patut memperhatikan beberapa hal.
Sebab, mereka rentan mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan ketika menempuh perjalanan jarak jauh.
Perjalanan yang lama dapat membuat anak cepat lelah dan menimbulkan rasa bosan, sehingga tidak jarang dari mereka yang rewel ketika di mobil.
Namun, ada beberapa panduan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir rasa tidak nyaman anak.
Psikolog Anna Surti Ariani mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin bepergian keluar kota bersama anak.
Anna menjelaskan, saat bepergian jauh dengan anak, penting untuk memberi penjelasan kepada mereka mengenai tujuan, waktu tempuh, transportasi yang digunakan, hal-hal yang dapat dilakukan dan dihindari, serta aturan yang berlaku selama di perjalanan.
Arahan secara jelas juga akan membantu anak untuk lebih memahami situasi yang akan dihadapi dan bagaimana harus bersikap.
Selain itu, penting untuk menyesuaikan waktu perjalanan dengan siklus tidur dan bangun si kecil.
Sebagai contoh, perjalanan darat lebih baik dilakukan pada pagi hari atau larut malam.
Kemudian, penting untuk merencanakan perjalanan liburan yang pasti sejak awal.
Usahakan agar rutinitas selama perjalanan tidak terlalu berbeda dengan di rumah.
Misalnya, menentukan bahwa jam 12 siang harus singgah untuk makan di restoran.
“Perlu diingat anak membutuhkan waktu untuk beberapa kali istirahat, misalnya sekitar 2 jam sekali. Walaupun yang menyetir masih kuat, namun hal ini harus dilakukan,” ucap Anna, belum lama ini kepada Kompas.com.
Hal penting lainnya yang harus dipersiapkan adalah orang tua harus memastikan kondisi fisik anak prima sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.
Persiapkan semua kebutuhan utama dan darurat dengan baik. “Seperti pakaian ganti, kalau anak berkeringat atau muntah di jalan, popok sekali pakai untuk anak yang masih mengompol, hingga kantong pipis atau pispot yang akan berguna jika anak sudah ingin buang air namun tidak bisa berhenti,” kata Anna.
Pastikan juga anak dapat tidur dengan nyaman selama di perjalanan.
Benda-benda yang disukai dan biasa membuat anak nyaman, misalnya bantal atau guling tertentu.
Selain itu, buatlah permainan atau aktivitas yang bisa menyenangkan anak ketika sedang mudik.
“Utamakan mainan yang kompak, bukan yang punya banyak bagian kecil seperti lego atau balok kayu. Contoh mainan yang bisa dibawa seperti boneka, board game bermagnet, papan tulis dengan spidol terikat di papan tulis, buku aktivitas anak (buku stiker, buku gambar, buku pop-up), buku cerita anak, dan lain-lain,” kata Anna.
Ketika mengeluarkan mainan di mobil, Anna menyarankan, sebaiknya hanya mengeluarkan 1 mainan saja, tidak lebih dari 1.
Hal ini dilakukan agar tidak berantakan, dan membuat anak lebih berkonsentrasi pada satu permainan. “Jangan lupa saat ingin mengeluarkan mainan lain, anak diminta membereskan dulu mainan yang sedang dimainkan. Proses membereskan juga akan menambah waktu aktivitas sehingga anak tidak mudah bosan,” ujarnya.
Anna juga mengingatkan bahwa orang tua merupakan nakhoda bagi mental si anak.
Ia bisa merasakan saat ayah atau ibunya tidak memperhatikan atau sedang dalam suasana hati yang buruk.
Contoh, saat perjalanan macet, orang tua yang biasanya penyabar bisa menjadi emosional dan sering marah-marah.
Karena hal ini, si anak bisa jadi bingung dan rewel.
Oleh sebab itu, orang tua juga harus mampu menjaga suasana hati serta bisa tenang dan tidak panik jika menghadapi kondisi darurat.