Ragamutama.com – Pasar mata uang kripto global menghadapi gelombang turbulensi. Dalam rentang waktu singkat, dari Senin (24 Maret) hingga Jumat (29 Maret), nilai kapitalisasi pasar kripto merosot tajam sebesar USD 150 miliar, setara dengan Rp 2.460 triliun, menyusut dari USD 2,82 triliun menjadi USD 2,67 triliun.
Efek domino dari penurunan signifikan ini menjalar ke saham-saham perusahaan kripto yang terdaftar di bursa saham, mayoritas mengalami koreksi hingga mencapai dua digit.
Kondisi ini beriringan dengan koreksi yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat, dimana empat indeks utama mengakhiri perdagangan Jumat (29 Maret) di wilayah negatif.
Hubungan erat antara performa pasar saham dan aset digital semakin terkonfirmasi, terutama bagi saham-saham perusahaan yang memiliki keterpaparan signifikan terhadap ekosistem kripto.
Salah satu yang merasakan dampak paling besar adalah saham Coinbase (COIN), yang terkoreksi 11,93 persen sejak awal pekan. Kapitalisasi pasarnya saat ini berada di angka USD 44,16 miliar atau sekitar Rp 724 triliun.
Sementara itu, saham perusahaan yang berfokus pada strategi kripto, seperti MicroStrategy (MSTR), juga mengalami penurunan sebesar 8,46 persen selama lima hari perdagangan terakhir.
Perusahaan penambang mata uang kripto yang sahamnya diperdagangkan secara publik turut merasakan tekanan berat. Contohnya, saham MARA Holdings yang merosot sebesar 14,64 persen.
Galaxy Digital (GLXY) mengalami penurunan tajam sebesar 14,69 persen, Riot Platforms (RIOT) terperosok lebih dalam dengan penurunan 15,02 persen, dan Core Scientific (CORZ) anjlok signifikan hingga 19,65 persen.
Cleanspark (CLSK) kehilangan 18,2 persen dari nilai pasarnya, sementara Bitdeer (BTDR) mencatatkan penurunan yang lebih besar lagi, mencapai 21,54 persen.
Penurunan ekstrem juga dialami oleh Iren Limited (IREN) dan Applied Digital (APLD), yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 21,06 persen dan 28,41 persen terhadap dolar AS selama periode lima hari tersebut.
Menurut analisis dari bitcoin.com, Minggu (30 Maret), pergerakan saham-saham kripto cenderung selaras dengan fluktuasi harga spot kripto, disebabkan oleh keterkaitan fundamental yang mendasarinya.
Perusahaan-perusahaan ini sangat bergantung pada sentimen pasar mata uang kripto dan dinamika makroekonomi yang secara langsung mempengaruhi valuasi aset digital.
Ketika harga mata uang kripto merosot, kepercayaan investor cenderung terpengaruh, memicu aksi jual yang berdampak tidak hanya pada aset digital itu sendiri, tetapi juga pada saham-saham yang terkait erat.
Selain itu, banyak perusahaan publik yang beroperasi di sektor ini juga menyimpan cadangan mata uang kripto dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya, penurunan harga kripto secara langsung berdampak pada neraca keuangan mereka, memperburuk tekanan di pasar saham.
Keterkaitan ini menciptakan efek domino, di mana fluktuasi pasar mata uang kripto secara langsung tercermin dalam kinerja saham-saham yang memiliki hubungan langsung dengan industri tersebut.