Prospek harga Bitcoin memunculkan berbagai prediksi menarik. Sejumlah analis memperkirakan Bitcoin berpotensi kembali menguji level US$ 100.000 (setara dengan Rp 1,66 miliar berdasarkan kurs Rp 16.560 per US$) lebih cepat dari perkiraan awal. Optimisme ini didorong oleh potensi decoupling atau pemisahan mata uang kripto ini dari pergerakan pasar saham Amerika Serikat (AS) dan komoditas emas.
Sebagai ilustrasi, Bitcoin relatif tidak terpengaruh oleh sentimen pasar yang kurang kondusif akibat pengumuman tarif global oleh Presiden AS Donald Trump pada tanggal 2 April 2025. Sempat mengalami penurunan lebih dari 3% hingga mencapai sekitar US$ 82.500 (Rp 1,37 miliar), Bitcoin dengan cepat rebound dan melampaui level US$ 84.700 (Rp 1,4 miliar). Sebagai perbandingan, indeks S&P 500 mengalami penurunan signifikan sebesar 10,65% pada minggu yang sama. Sementara itu, harga emas juga mengalami koreksi sebesar 4,8% setelah sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 3.167 (Rp 52,44 juta) per ounce pada tanggal 3 April 2025.
Performa Bitcoin yang berbeda ini memicu munculnya “narasi Bitcoin berbasis emas”. Analisis ini terinspirasi oleh tren harga yang terjadi antara akhir tahun 2018 hingga pertengahan tahun 2019, yang digunakan untuk memproyeksikan potensi pemulihan harga Bitcoin yang kuat menuju target US$ 100.000 (Rp 1,66 miliar).
Pada periode tersebut, harga emas menunjukkan kenaikan yang stabil, meningkat hampir 15% pada pertengahan tahun 2019. Di sisi lain, harga Bitcoin cenderung stagnan. Namun, tidak lama kemudian, Bitcoin mengalami terobosan signifikan, naik lebih dari 170% pada awal tahun 2019, dan kemudian melonjak 344% pada akhir tahun 2020.
- Barclays: Kebijakan Tarif Trump Bakal Buat Pertumbuhan Ekonomi Asia Melambat
- Harga Minyak Jatuh di Angka Terendah Empat Tahun, Sempat Sentuh US$ 61 per Barel
- Kamboja Turunkan Tarif Impor dari 35% jadi 5% Respons Kebijakan Trump
“Kembalinya harga Bitcoin ke level US$ 100 ribu (Rp 1,66 miliar) mengindikasikan adanya pergeseran dari emas menuju Bitcoin,” ujar seorang analis pasar dari MacroScope, seperti dikutip oleh Cointelegraph pada hari Sabtu (5/4).
Menurut analis tersebut, berdasarkan siklus sebelumnya, kondisi ini dapat membuka peluang bagi periode baru di mana Bitcoin mengungguli kinerja emas dan aset lainnya.
Pandangan ini sejalan dengan prediksi yang disampaikan oleh pendiri Alpine Fox, Mike Alfred, dalam analisisnya pada tanggal 14 Maret. Alfred mengantisipasi potensi pertumbuhan Bitcoin 10 kali lipat atau lebih dibandingkan emas, berdasarkan preseden historis.
Namun, perlu diingat bahwa rasio Bitcoin terhadap emas juga memberikan sinyal peringatan potensi jebakan kenaikan (bull trap). Berdasarkan fraktal bearish yang teramati pada rasio Bitcoin terhadap emas (BTC/XAU), Bitcoin berpotensi mengalami penurunan menuju level US$ 65.000 (Rp 1,08 miliar).
Rasio BTC/XAU menunjukkan pola yang familier, terakhir kali terlihat oleh para pelaku pasar pada tahun 2021. Penembusan (breakdown) terjadi setelah pengujian support utama kedua pada rata-rata pergerakan eksponensial 50-2W.
Saat ini, rasio Bitcoin terhadap emas mengulangi fraktal ini, dan kembali menguji exponential moving average (EMA)-50 merah sebagai level support. EMA merupakan indikator teknikal yang umum digunakan untuk mengidentifikasi tren harga suatu aset. EMA merupakan jenis Moving Average (MA) yang memberikan bobot lebih besar pada data harga terbaru.
Dalam siklus sebelumnya, Bitcoin terkonsolidasi di sekitar level EMA yang sama sebelum akhirnya menembus ke level yang lebih rendah. Pada akhirnya, Bitcoin menemukan support di EMA 200-2W (garis biru). Jika pola historis ini terulang, rasio Bitcoin terhadap emas berpotensi mengalami koreksi yang lebih dalam, terutama jika kondisi makroekonomi memburuk.
Menariknya, siklus penurunan ini bertepatan dengan penurunan nilai Bitcoin dalam denominasi dolar AS. Jika fraktal ini terulang, target penurunan awal Bitcoin adalah EMA 50-2W di sekitar level US$ 65.000 (Rp 1,08 miliar). Skenario aksi jual yang lebih ekstrim dapat menyebabkan penurunan di bawah US$ 20.000 (Rp 331,2 juta), sejalan dengan EMA 200-2W. Sebaliknya, rebound dari EMA 50-2W BTC/XAU dapat membatalkan validitas fraktal bearish tersebut.
Resesi AS akan Hancurkan Prospek Bullish Bitcoin
Dari sudut pandang fundamental, prospek harga Bitcoin tampak cenderung ke arah yang kurang menguntungkan.
Para investor saat ini mewaspadai potensi perang tarif global yang digagas oleh Donald Trump yang dapat berkembang menjadi perang dagang yang lebih luas, memicu resesi di Amerika Serikat. Aset-aset berisiko seperti Bitcoin cenderung menunjukkan kinerja yang kurang baik selama periode kontraksi ekonomi.
Pada tanggal 4 April, Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menepis ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Powell menekankan bahwa kemajuan inflasi masih belum merata, mengisyaratkan lingkungan suku bunga tinggi yang berkepanjangan, yang berpotensi memberikan tekanan lebih lanjut pada momentum kenaikan Bitcoin.
Meskipun demikian, data dari CME menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang obligasi memperkirakan adanya tiga kali penurunan suku bunga berturut-turut hingga pertemuan The Fed pada bulan September mendatang.