Penerbangan selama dua jam dua puluh lima menit dari Jakarta berakhir pukul 06.30 WITA ketika pesawat Batik Air yang saya naiki mendarat dengan mulus di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Palu.
Getaran halus saat roda pesawat menyentuh landasan menandai berakhirnya perjalanan dan dimulainya petualangan di lembah Palu. Menuruni tangga pesawat, saya disambut udara pagi yang segar dan hangat, dengan pemandangan pegunungan yang megah mengelilingi bandara kecil ini.
Gunung Gawalise di sebelah barat Kota Palu, tampak menonjol, menyuguhkan panorama yang menakjubkan. Pemandangannya begitu memikat, seolah alam menyambut dengan ramah.
Jujur, saya belum pernah melihat bandara seindah ini di Indonesia. Keindahannya membuat saya ingin berlama-lama.
Walau berukuran mungil, bandara ini modern dan elegan. Bangunannya berpadu harmonis dengan landasan pacu yang bersih dan terpelihara dengan baik.
Menunggu penjemput di area kedatangan, saya sempat mengamati kebersihan bandara yang terjaga. Tong sampah tertata rapi, dan petugas kebersihan terlihat aktif sejak pagi.
Bandara ini telah bangkit dari keterpurukan pasca gempa dan tsunami dahsyat 2018 yang memporak-porandakan infrastruktur, termasuk bandara ini.
Seperti burung phoenix, Bandara Mutiara bangkit kembali dengan megah. Keberhasilan rekonstruksi ini tak lepas dari peran Rudi Ricardo, mantan Kepala Bandara periode 2022-2025.
Rudi bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menanamkan semangat baru. Ia ingin Bandara Mutiara menjadi lebih dari sekadar tempat transit, melainkan pintu gerbang kemajuan dan kesejahteraan.
Di bawah kepemimpinannya, kawasan bandara kini lebih hidup, dengan dukungan bagi UMKM yang menjual produk lokal di sekitar terminal.
Menurut Liputan6.com, rekonstruksi bandara ini menelan biaya Rp567 miliar.
Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Mutiara Sis Al-Jufri di Palu pada Selasa, 26 Maret 2024. Peresmian ini menandai pemulihan pasca gempa dan langkah penting peningkatan infrastruktur transportasi di Sulawesi Tengah.
Peresmian ini juga meningkatkan akses dan mobilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.
Di bawah langit biru Palu, saya merenungkan perjalanan bandara ini, dari kehancuran menuju kebangkitan. Semangat dan dedikasi yang terlihat di setiap sudutnya mengajarkan bahwa dari reruntuhan, kita bisa membangun sesuatu yang lebih indah dan bermakna.
Bersambung..