Ragamutama.com, Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti adanya sejumlah indikasi penurunan konsumsi rumah tangga menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025. Dalam analisis terbarunya, CORE Indonesia menemukan bahwa deflasi yang terjadi secara beruntun tidak hanya disebabkan oleh pemberian diskon tarif listrik, seperti yang disampaikan oleh pemerintah.
Laporan bertajuk ‘CORE Insight: Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025’ mengidentifikasi deflasi di awal tahun sebagai tanda-tanda anomali dalam perilaku konsumsi rumah tangga. “Kondisi lesu di bulan Ramadan dan mendekati Lebaran ini merupakan sebuah anomali yang mencerminkan adanya masalah mendasar dalam perekonomian domestik Indonesia,” demikian bunyi laporan CORE yang diterbitkan pada 26 Maret 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan deflasi berasal dari kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Hal ini dipengaruhi oleh program insentif diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang berlaku sejak Januari hingga Februari 2025.
Akan tetapi, CORE berpendapat bahwa deflasi pada bulan Februari 2025 tidak terbatas hanya pada kelompok pengeluaran tersebut. Deflasi juga tercatat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan kontribusi negatif sebesar 0,12 persen secara bulanan.
“Padahal, pada periode menjelang bulan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu menjadi pendorong utama inflasi.”
Bank Indonesia (BI) juga mencatat penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan Februari 2025 yang diperkirakan mencapai 0,5 persen secara tahunan (yoy). Menurut analisis CORE, melemahnya pertumbuhan penjualan di beberapa sektor ritel memperkuat temuan dari survei IPR tersebut.
Senada dengan laporan CORE, para pelaku usaha juga mengakui adanya penurunan daya beli masyarakat menjelang Lebaran 2025. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19.
APPBI memperkirakan bahwa pada momen Ramadan kali ini, penjualan di sektor ritel masih akan mengalami pertumbuhan. Namun, dengan adanya pelemahan daya beli yang masih berlangsung, kalangan pengusaha meyakini bahwa pertumbuhan tersebut tidak akan terlalu signifikan. Alphonzus memprediksi bahwa penjualan ritel pada momen Idul Fitri kali ini hanya akan mampu tumbuh di bawah 10 persen. “Tumbuh, tetapi hanya satu digit saja,” ujarnya.
Di sisi lain, Alphonzus masih optimistis bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan masih berpotensi tumbuh hingga 15 hingga 20 persen. “Dalam kondisi ekonomi seperti ini, masyarakat tetap datang ke pusat perbelanjaan, tidak berkurang, namun pola belanjanya yang mengalami perubahan,” jelasnya.
Pilihan Editor: Kontraksi Ekonomi Menjelang Lebaran