Ragamutama.com – JAKARTA. Menjelang libur Lebaran di akhir kuartal I 2025, pergerakan rupiah yang fluktuatif dan cenderung melemah menjadi sorotan. Kemampuan rupiah untuk pulih di kuartal berikutnya sangat bergantung pada intervensi Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan terakhir kuartal I 2025 sebelum libur Lebaran, Kamis (27/3), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (JISDOR BI) mencatat penguatan tipis rupiah di level Rp 16.566. Meskipun menunjukkan penguatan harian 0,13%, rupiah tetap melemah 0,39% secara mingguan.
Selama libur Lebaran, transaksi rupiah di pasar spot domestik akan terbatas karena BI tidak beroperasi penuh. Namun, transaksi masih dapat berlangsung di pasar offshore dengan likuiditas rendah dan tanpa intervensi signifikan dari BI.
Rupiah Terus Melemah ke Rp 16.583 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (31/3)
Pada Rabu (2/4) pukul 10.24 WIB, rupiah tercatat di level Rp 16.706, seiring dengan pelemahan indeks dolar spot (DXY) ke 104,1580.
Lukman Leong, analis Doo Financial, menyatakan sentimen eksternal akan menjadi penentu utama nilai tukar rupiah setelah libur Lebaran. Menurutnya, pergerakan mata uang Garuda di kuartal II akan dipengaruhi oleh sentimen global.
“Sentimen dari Amerika Serikat (AS) saat ini paling dominan, namun pengaruh dari China juga signifikan, terutama jika ada stimulus baru yang mendukung rupiah,” jelas Lukman kepada Kontan.co.id pekan lalu.
Kebijakan tarif balasan Presiden AS, Donald Trump, mulai berlaku pada Rabu (2/4). Meskipun Gedung Putih belum memberikan detail, kekhawatiran akan meningkatnya tensi perang dagang tetap ada.
Rupiah Masih Dalam Tren Pelemahan, Aset Kripto Ini Bisa Jadi Pilihan Investasi
Jika negara-negara dengan mata uang utama melawan kebijakan tarif Trump, indeks dolar berpotensi melemah, mendorong penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.
Hal ini terlihat ketika China menyatakan akan mengambil tindakan atas tarif 20% terhadap barang impornya dari AS. Kanada juga akan menerapkan tarif 25% terhadap produk impor AS senilai US$ 15 miliar. Meksiko pun melakukan hal serupa sebagai balasan atas rencana Trump.
Akibatnya, DXY melemah karena potensi perang dagang AS dengan negara-negara besar lainnya.
Dengan ketidakpastian kebijakan tarif Trump, Lukman menilai pergerakan rupiah di kuartal II sulit diprediksi.
Namun, ia memperkirakan rupiah cenderung tertekan dengan potensi mendekati level Rp 17.000. Meskipun demikian, Lukman optimis BI akan terus melakukan intervensi sehingga pelemahan rupiah lebih gradual.
“Tanpa intervensi, sangat mungkin rupiah menembus level tertinggi sepanjang masa (ATH) di atas Rp 17.000,” sebut Lukman.
Ia menambahkan, pemerintah perlu berupaya meyakinkan investor, khususnya terkait posisi fiskal negara. Sentimen domestik juga berpengaruh terhadap nilai rupiah.