RAGAMUTAMA.COM – Sejak diluncurkan pada akhir 2022, ChatGPT telah menjadi fenomena global. Dengan lebih dari 400 juta pengguna aktif mingguan, teknologi ini telah membantu jutaan orang dalam berbagai hal mulai dari menyusun email, belajar, hingga menulis puisi.
Namun, di balik semua kemudahan yang ditawarkan, muncul sisi gelap yang tak terduga: perasaan kesepian.
Penelitian kolaboratif antara OpenAI dan MIT Media Lab mengungkap bahwa penggunaan ChatGPT, terutama dalam mode suara, dapat memengaruhi kesehatan emosional penggunanya. Apa sebenarnya yang mereka temukan?
Para peneliti menganalisis perilaku hampir 4.000 pengguna ChatGPT dalam kurun waktu empat minggu.
Mereka meneliti percakapan pengguna dengan chatbot, baik dalam bentuk teks maupun suara, untuk memahami dampaknya terhadap emosi pengguna.
Hasilnya? Mayoritas pengguna hanya menggunakan ChatGPT untuk waktu singkat dan fungsional.
Namun, bagi sebagian pengguna yang menghabiskan waktu lebih lama setiap harinya, muncul korelasi yang mengkhawatirkan: semakin sering mereka berinteraksi dengan chatbot, semakin besar kemungkinan mereka merasa kesepian, tergantung, dan semakin jarang bersosialisasi di dunia nyata.
Menariknya, ChatGPT dalam mode suara justru awalnya mampu mengurangi rasa kesepian. Suara
AI yang merespons dengan cepat dan ramah memberikan ilusi kehadiran sosial yang menenangkan.
Namun, studi juga menemukan sebuah paradoks: pengguna yang sudah merasa kesepian sejak awal justru cenderung lebih sering menggunakan mode suara. Sayangnya, penggunaan berlebihan ini malah berpotensi memperdalam perasaan isolasi mereka dalam jangka panjang.
Menurut Business Insider, studi ini sangat relevan karena kita sering tidak menyadari dampak emosional dari teknologi yang kita gunakan sehari-hari. Seperti halnya media sosial yang dulu dianggap sekadar hiburan, tetapi kemudian terbukti bisa memicu kecemasan, FOMO, dan penurunan kesehatan mental—AI seperti ChatGPT juga bisa membawa efek serupa jika digunakan tanpa kontrol.
Studi ini menggunakan versi ChatGPT berbasis GPT-4o, model multimodal yang diluncurkan Mei 2024. Model ini mampu memahami dan merespons input teks, suara, dan gambar. Versi terbarunya, GPT-4.5, bahkan disebut lebih peka terhadap nuansa emosi. Belum diketahui apakah studi lanjutan akan dilakukan dengan versi terbaru ini.
Meskipun AI seperti ChatGPT bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, penting bagi pengguna untuk tetap menjaga keseimbangan. Teknologi seharusnya menjadi pelengkap interaksi manusia, bukan pengganti.
Jika Anda merasa terlalu sering mengandalkan chatbot untuk bicara, mungkin ini saat yang tepat untuk keluar, bertemu teman, dan menyapa dunia nyata. Karena pada akhirnya, tidak ada yang bisa menggantikan hangatnya kehadiran manusia di dunia nyata.