Kinerja Emiten Grup Sinarmas: Analisis Mendalam dan Prospeksi 2025

- Penulis

Jumat, 4 April 2025 - 22:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ragamutama.com JAKARTA. Analis memperkirakan bahwa perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Grup Sinarmas berpotensi menghadapi dinamika pasar yang menantang di sepanjang tahun 2025.

Selama tahun 2024, kinerja berbagai emiten Grup Sinarmas menunjukkan variasi yang signifikan, tergantung pada sektor industri masing-masing. Secara khusus, sektor properti dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) mencatatkan performa yang menggembirakan pada periode tersebut.

Di sektor properti, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih yang impresif, mencapai dua kali lipat pada tahun 2024. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4,35 triliun. Angka ini menandai peningkatan sebesar 124,06% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan Rp 1,94 triliun pada tahun sebelumnya.

“Pencapaian gemilang ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan usaha yang kuat dan efisiensi yang ditingkatkan dalam pengelolaan beban operasional,” jelas Hermawan Wijaya, Direktur BSDE, dalam pernyataan resminya pada hari Selasa (25/3). 

Pendapatan usaha BSDE tercatat sebesar Rp 13,7 triliun pada tahun 2024, meningkat 19,56% YoY dari Rp 11,53 triliun pada tahun sebelumnya. “Kenaikan ini terutama didorong oleh penjualan unit residensial dan segmen komersial yang terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif,” imbuh Hermawan. 

BSDE Cetak Laba Dua Kali Lipat di Tahun 2024, Ini Rekomendasi Sahamnya

Penjualan tanah, bangunan, dan strata title menjadi kontributor utama bagi pendapatan usaha BSDE. Segmen ini membukukan angka sebesar Rp 11,58 triliun, setara dengan 83,97% dari total pendapatan usaha secara konsolidasian.  

Segmen dengan kontribusi terbesar kedua sepanjang tahun 2024 berasal dari sektor sewa. Sektor ini menyumbangkan Rp 957,58 miliar, yang setara dengan 7,01% dari total pendapatan usaha secara konsolidasi BSDE.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) juga melaporkan peningkatan kinerja yang solid di tahun 2024. DMAS mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 2,03 triliun, meningkat 5,8% YoY dibandingkan dengan Rp 1,92 triliun pada tahun 2023.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menyatakan bahwa pertumbuhan pendapatan dari sektor industri memiliki peran penting dalam pencapaian DMAS. 

Secara terperinci, pendapatan dari segmen industri mencapai Rp 1,8 triliun, mewakili sekitar 88,9% dari total pendapatan usaha di tahun lalu. 

“Sektor industri, terutama segmen data center, terus menjadi pilar utama bagi bisnis perseroan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis pada hari Rabu (12/2).

Selain itu, sektor hunian menyumbang sebesar Rp 125,6 miliar atau 6,2% dari pendapatan usaha, dan sektor komersial sebesar Rp 67,6 miliar atau 3,3% dari pendapatan usaha pada tahun 2024. 

Adapun sektor rental dan hotel masing-masing memberikan kontribusi sebesar Rp 16,5 miliar dan Rp 16,2 miliar terhadap pendapatan usaha DMAS di tahun lalu. 

DMAS membukukan laba bersih sebesar Rp1,33 triliun, meningkat 10,2% YoY dibandingkan laba bersih di tahun 2023 sebesar Rp 1,21 triliun.

Di sektor CPO, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,27 triliun tahun lalu, naik 39,26% dari Rp 917,80 miliar di tahun 2023.

Peningkatan laba ini didorong oleh kenaikan penjualan bersih sebesar 18,49% menjadi Rp 78,83 triliun di tahun 2024, dari sebelumnya Rp 66,53 triliun di tahun 2023.

Baca Juga :  Rebalancing Indeks MSCI, Cek Daftar Saham yang Berpotensi Keluar-Masuk

Bumi Serpong Damai (BSDE) Targetkan Marketing Sales Rp 10 Triliun di Tahun 2025

Sebaliknya, sektor batubara dan kertas mengalami perlambatan kinerja tahun lalu.

Di sektor batubara, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) membukukan pendapatan sebesar US$ 3,02 miliar sepanjang 2024, menyusut 39,72% YoY dibandingkan tahun 2023.

DSSA mencatat pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 734 juta pada 2024. Laba bersih tahun berjalan DSSA tercatat sebesar US$ 542 juta, terkoreksi 37% yoy dibandingkan US$ 865 juta pada tahun sebelumnya.

Di sektor kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih, meskipun terjadi penurunan pada pendapatan sepanjang tahun lalu. Pendapatan INKP pada 2024 tercatat turun 8,06% menjadi US$ 3,19 miliar dari perolehan US$ 3,47 miliar pada 2023.

Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk INKP sepanjang 2024 naik 3,12% menjadi US$424,30 juta. Pada tahun 2023, INKP mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$411,46 juta.

Grup Sinarmas juga memiliki bisnis di sektor telekomunikasi melalui PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Saat ini, FREN sedang dalam proses merger dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Prospek

Menurut Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, kinerja masing-masing emiten sangat bergantung pada kondisi industri, efisiensi operasional, serta rencana ekspansi yang diterapkan untuk memperkuat fundamental perusahaan. 

Dari sudut pandang kondisi ekonomi saat ini, ketidakpastian terkait arah suku bunga acuan dan berbagai kebijakan lainnya dapat memengaruhi kinerja masing-masing sektor.

“Sektor teknologi dan properti masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, sementara sektor industri masih menghadapi tekanan yang signifikan tahun lalu,” ujarnya kepada Kontan pada hari Jumat (4/4).

Ke depan, sentimen positif dari rencana ekspansi dan permintaan yang tetap tinggi di berbagai sektor dapat menjadi pendorong pertumbuhan. Namun, ketidakpastian ekonomi dapat memicu tekanan pada fundamental masing-masing emiten. 

Indy berpendapat bahwa BSDE memiliki peluang untuk pulih, didukung oleh potensi penurunan suku bunga acuan dan insentif dari pemerintah yang dapat mendorong peningkatan permintaan.  

“Sementara itu, kinerja INKP diperkirakan masih akan tertekan, dan perkembangan merger antara FREN dan EXCL perlu terus dipantau karena dapat memengaruhi profitabilitas,” jelasnya.

Indy merekomendasikan investor untuk mencermati saham BSDE dengan target harga jangka panjang di Rp 1.070 per saham dan EXCL dengan target harga di Rp 2.420 per saham.

Bumi Serpong Damai (BSDE) Raih Marketing Sales Rp 9,72 Triliun Sepanjang 2024

Rekomendasi saham

VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, mengamati bahwa konstituen dalam Grup Sinarmas menunjukkan pertumbuhan kinerja yang solid, didukung oleh sentimen positif di masing-masing industri.

Sebagai contoh, BSDE berhasil mencapai target marketing sales sebesar 102% atau sebesar Rp 9,72 triliun di tahun 2024, tumbuh sebesar 2,3% YoY. Hal ini didukung oleh insentif PPNDTP dari pemerintah dan diversifikasi produk BSDE, di mana kontribusi segmen residensial mencapai 67% terhadap total. 

Baca Juga :  Intip Rekomendasi Saham Pilihan untuk Perdagangan Hari Ini (11/2)

Untuk FREN, terjadi penurunan laba bersih menjadi defisit Rp 1,29 triliun di 2024 seiring dengan kenaikan beban usaha. Namun, merger dengan EXCL berpotensi untuk merampingkan keuangan dan meningkatkan efektivitas kinerja.

“Dengan demikian, FREN memiliki kinerja yang paling kurang memuaskan di sepanjang 2024 dibandingkan dengan konstituen grup Sinarmas lainnya. Penguatan ditopang oleh sentimen industri dan insentif pemerintah,” ujarnya kepada Kontan pada hari Jumat (4/4).

Jika melihat sentimen saat ini, ada kecenderungan bahwa konstituen dalam grup Sinarmas akan menghadapi tantangan. Pertama, potensi stagnasi hingga penurunan harga komoditas, khususnya batubara, seiring dengan target konsumsi global yang diperkirakan stagnan dan kekhawatiran terkait perlambatan permintaan dari China.

Kedua, insentif PPNDTP yang diperpanjang oleh pemerintah, meskipun demikian, daya beli dikhawatirkan hanya bergantung pada insentif. “Jika melihat suku bunga yang diperkirakan akan lebih lambat diturunkan seiring dengan kekhawatiran baru, yakni dampak dari tarif war,” paparnya.

Ketiga, ketidakpastian ekonomi global akan menghambat ekspor, seperti dari pulp & paper yang terus tergerus seiring dengan demand yang melambat. 

“Untuk tahun 2025, BSDE & SMAR diperkirakan masih akan mencatatkan kinerja yang solid, meskipun dengan potensi penurunan EPS untuk BSDE menjadi Rp168,77 per saham,” katanya.

Jika melihat tren pergerakan harga saham secara year to date pada 27 Maret 2025, BSDE sudah turun 14,8%, SMAR turun 3,29%, INKP turun 27,6%, DSSA naik 15,14%, dan FREN naik 9,09%.

“Maka beberapa harga saham belum sepenuhnya mencerminkan kinerja, hal ini seiring dengan pasar yang tengah menantikan rilis kinerja kuartal I 2025 yang akan menjadi indikator penting untuk kinerja full year,” ungkapnya.

Audi merekomendasikan beli BSDE dengan target harga Rp 1.160 per saham.

Maybank Sekuritas Proyeksi Hasil Pra Penjualan BSDE Tumbuh Melambat di Tahun Ini

Direktur PT Rumah Para Pedagang, Kiswoyo Adi Joe, berpendapat bahwa kinerja sektor properti dan CPO masih prospektif di tahun 2025. Oleh karena itu, BSDE, DMAS, dan SMAR berpotensi lebih unggul dibandingkan emiten lainnya.

“DMAS yang paling bagus, karena bentuk asetnya adalah pendapatan berulang di kawasan industri. Sementara, SMAR harus hati-hati, karena ada tantangan dari pabrik minyak goreng yang operasionalnya mahal,” ungkapnya kepada Kontan pada hari Jumat (4/4).

Kiswoyo merekomendasikan beli untuk BSDE dalam jangka sangat panjang dengan target harga yang berpotensi mencapai Rp 2.000 per saham.

DMAS direkomendasikan beli di Rp 180 – 200 per saham di akhir tahun 2025. “Recurring income menarik dan rutin membagikan dividen,” ujarnya.

Rekomendasi beli juga diberikan untuk DSSA, INKP, dan TKIM dengan target harga masing-masing Rp 45.000 per saham, Rp Rp 6.000 – Rp 7.000 per saham, dan Rp 6.000 – Rp 7.000 per saham. “Beli dalam jumlah kecil, karena sahamnya tak terlalu likuid,” kata Kiswoyo.

Berita Terkait

BRI Bagi Dividen Jumbo: Berapa Keuntungan Direksi & Komisaris?
GAPMMI: Ancaman Tarif Balasan AS Picu Kenaikan Biaya Produksi dan Penurunan Ekspor Indonesia
Perang Dagang Trump: Kekayaan 500 Miliarder Dunia Menyusut Rp3.443 Triliun
BI Amankan Rupiah: Jurus Triple Intervention Lawan Tarif Impor Trump
Rupiah Tertekan Tarif Trump: Penjelasan BI Soal Dampak ke Pasar
Kebijakan Tarif Trump Picu Prediksi Reli Bitcoin Hingga Rp 1,66 Miliar
Intervensi BI Redam Dampak Tarif Trump: Stabilitas Pasar Terjaga?
China Bereaksi Keras: Tarif Trump Bikin Saham AS Anjlok!

Berita Terkait

Sabtu, 5 April 2025 - 18:31 WIB

BRI Bagi Dividen Jumbo: Berapa Keuntungan Direksi & Komisaris?

Sabtu, 5 April 2025 - 18:11 WIB

GAPMMI: Ancaman Tarif Balasan AS Picu Kenaikan Biaya Produksi dan Penurunan Ekspor Indonesia

Sabtu, 5 April 2025 - 17:59 WIB

Perang Dagang Trump: Kekayaan 500 Miliarder Dunia Menyusut Rp3.443 Triliun

Sabtu, 5 April 2025 - 17:19 WIB

BI Amankan Rupiah: Jurus Triple Intervention Lawan Tarif Impor Trump

Sabtu, 5 April 2025 - 17:12 WIB

Rupiah Tertekan Tarif Trump: Penjelasan BI Soal Dampak ke Pasar

Berita Terbaru

Uncategorized

Anwar Ibrahim Hubungi Prabowo: ASEAN Bersatu Sikapi Tarif Trump!

Sabtu, 5 Apr 2025 - 18:48 WIB