Efek Trump: Analisis Dampak pada Pasar Keuangan Global

- Penulis

Jumat, 4 April 2025 - 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ragamutama.com JAKARTA. Penerapan kebijakan tarif impor yang agresif oleh Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, Donald Trump, telah menciptakan riak signifikan di pasar keuangan global. Dampaknya terasa di berbagai belahan dunia, dengan mayoritas bursa saham global mengalami tekanan yang cukup dalam.

Data yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa Dow Jones mengalami penurunan sebesar 3,98% pada hari Kamis, 3 April. Penurunan juga terjadi pada indeks S&P 500, yang mencatatkan penurunan sebesar 4,84%. Di Eropa, Euro Stoxx 50 turun sebesar 4,53%, sementara FTSE 100 mengalami penurunan sebesar 3,60%.

Di kawasan Asia, Nikkei mencatat penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 2,75%. Selanjutnya, S&P/ASX 200 juga mengalami penurunan sebesar 2,44%, dan Hang Seng turun sebesar 1,52% pada hari Jumat, 4 April.

Penurunan kinerja bursa saham global ini sejalan dengan meningkatnya persepsi risiko investasi, yang tercermin dalam kenaikan Credit Default Swap (CDS) dengan tenor 5 tahun. Sebagai contoh, CDS 5 tahun AS naik sebesar 7,87% dalam kurun waktu satu bulan, mencapai level 36,89 berdasarkan data World Government Bonds pada Jumat, 4 April.

Di benua Eropa, dalam periode waktu yang sama, CDS Belanda naik sebesar 6,04%, Italia sebesar 6,98%, dan Perancis melonjak tajam sebesar 16,59%. Sementara itu, di kawasan Asia, CDS 5 tahun Jepang meningkat sebesar 17,16%, dan China melesat sebesar 25,10% hingga mencapai angka 58,66.

Fikri C. Permana, seorang Senior Economist di KB Valbury Sekuritas, menyampaikan bahwa data-data tersebut secara jelas mengindikasikan kekhawatiran pasar global terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh Trump. Menurutnya, dampak dari tarif ini tidak hanya terbatas pada pasar keuangan, tetapi juga merambah ke sektor riil.

“Untuk sementara waktu, akan ada tekanan yang dirasakan oleh negara-negara yang memiliki peran sebagai eksportir ke AS,” ungkapnya kepada Kontan.co.id pada Jumat, 4 April.

Bursa Asia Melemah Sepekan, Sentimen Tarif Trump dan Data Ekonomi AS Jadi Penekan

Namun, dalam jangka panjang, AS diperkirakan akan menghadapi kerugian yang semakin besar karena adanya potensi perubahan dalam rantai pasokan, atau perubahan pola perdagangan global secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena negara-negara, terutama di kawasan Asia, kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneter mereka, yang berpotensi menarik dana asing masuk ke pasar Asia.

Baca Juga :  Saham Blue Chip Ini dapat Rekomendasi Beli, di Tengah Tren Koreksi

David Sumual, Kepala Ekonom BCA, memprediksi bahwa indeks dolar akan mengalami tren penurunan seiring dengan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara *emerging market*. Oleh karena itu, ia juga memperkirakan bahwa aliran dana asing berpotensi untuk masuk ke pasar Asia.

Meskipun demikian, tidak semua negara di Asia akan merasakan dampak yang sama. Beberapa negara di Asia dinilai akan terkena dampak yang cukup signifikan akibat penerapan tarif oleh Trump, seperti Laos, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar, yang dikenakan tarif sebesar 40% karena kedekatan geografis mereka dengan China, yang sering dijadikan sebagai batu loncatan untuk ekspor ke AS.

David memandang Malaysia, Thailand, dan India sebagai negara-negara dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara *emerging market* lainnya. Hal ini terlihat dari CDS 5 tahun Filipina yang berada di level 57,35 dan Malaysia di 57,19, sementara India tetap stabil di angka 84,08 dalam enam bulan terakhir.

“Fundamental ekonomi masing-masing negara, seperti defisit neraca transaksi berjalan, kondisi fiskal, dan prospek ekonomi, dianggap baik,” jelas David.

Fikri juga sependapat bahwa dana asing akan lebih dulu mengalir ke Malaysia dan India karena tarif yang dikenakan relatif lebih rendah. Tarif Trump untuk Malaysia adalah sebesar 24%, sementara untuk India sebesar 26%.

Sementara itu, untuk Indonesia, Fikri melanjutkan, dana asing diperkirakan belum akan masuk karena besaran tarif yang cukup besar dan masih menantikan fundamental ekonomi yang lebih baik lagi.

“Setelah fundamental ekonomi membaik, terjadi perubahan dalam rantai pasokan, dan adanya negosiasi perdagangan dengan negara-negara yang terdampak, kemungkinan baru akan ada aliran dana masuk ke Indonesia,” kata Fikri.

Baca Juga :  Wamenkeu: Program 3 Juta Rumah Topang Perekonomian RI

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan bahwa aliran dana asing akan keluar dari pasar keuangan Indonesia, mengingat CDS 5 tahun Indonesia berada di level 100,45. Dana asing akan terutama keluar dari instrumen yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap persepsi risiko global, seperti obligasi pemerintah (SUN) dan pasar saham.

“Dengan *yield* obligasi AS yang masih tinggi serta tekanan stagflasi yang muncul di AS, investor global memiliki alasan kuat untuk menarik dana dari *emerging markets*, termasuk Indonesia, demi aset yang lebih aman seperti US Treasuries atau instrumen *safe-haven* lainnya seperti Yen Jepang dan Franc Swiss,” terangnya.

Fikri menilai bahwa dengan kondisi saat ini, investor cenderung mengalihkan dananya ke US Treasury Bills, atau obligasi pemerintah AS dengan tenor yang lebih pendek. Menurutnya, hal ini sejalan dengan penurunan *yield* yang lebih tinggi, yang berarti harganya naik lebih besar.

Berdasarkan data dari Trading Economics, US Treasury tenor 10 tahun turun sebesar 0,479% dalam satu tahun. Sementara itu, tenor 4 minggu hingga tenor 2 tahun turun di atas 1%.

Dampak Tarif Baru Donald Trump, Triliunan Dolar Hilang di Pasar Saham AS

Selain ke US Treasury, Fikri berpandangan bahwa investor juga cenderung mengalihkan dananya ke kas di tengah ketidakpastian yang sedang berlangsung.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, juga menyarankan agar investor mengalihkan dananya ke produk *safe haven* untuk mengamankan aset dari goncangan. Ia pun menyarankan agar investor dengan tipe agresif dapat mengalokasikan 40% dana di *cash*, 60% di emas, dan sebagian kecil di saham *bluechip*.

Lalu, untuk tipe moderat, dapat mengatur portofolio dengan alokasi 30% *cash* dan setara *cash*, 50% emas, dan sisanya dapat dialihkan ke saham *bluechip*. “Untuk investor konservatif, alokasinya adalah 50% *cash* dan setara *cash*, 50% emas dan obligasi jangka pendek,” kata Eko.

Berita Terkait

BRI Bagi Dividen Jumbo: Berapa Keuntungan Direksi & Komisaris?
GAPMMI: Ancaman Tarif Balasan AS Picu Kenaikan Biaya Produksi dan Penurunan Ekspor Indonesia
Perang Dagang Trump: Kekayaan 500 Miliarder Dunia Menyusut Rp3.443 Triliun
BI Amankan Rupiah: Jurus Triple Intervention Lawan Tarif Impor Trump
Rupiah Tertekan Tarif Trump: Penjelasan BI Soal Dampak ke Pasar
Kebijakan Tarif Trump Picu Prediksi Reli Bitcoin Hingga Rp 1,66 Miliar
Intervensi BI Redam Dampak Tarif Trump: Stabilitas Pasar Terjaga?
China Bereaksi Keras: Tarif Trump Bikin Saham AS Anjlok!

Berita Terkait

Sabtu, 5 April 2025 - 18:31 WIB

BRI Bagi Dividen Jumbo: Berapa Keuntungan Direksi & Komisaris?

Sabtu, 5 April 2025 - 18:11 WIB

GAPMMI: Ancaman Tarif Balasan AS Picu Kenaikan Biaya Produksi dan Penurunan Ekspor Indonesia

Sabtu, 5 April 2025 - 17:59 WIB

Perang Dagang Trump: Kekayaan 500 Miliarder Dunia Menyusut Rp3.443 Triliun

Sabtu, 5 April 2025 - 17:19 WIB

BI Amankan Rupiah: Jurus Triple Intervention Lawan Tarif Impor Trump

Sabtu, 5 April 2025 - 17:12 WIB

Rupiah Tertekan Tarif Trump: Penjelasan BI Soal Dampak ke Pasar

Berita Terbaru

Uncategorized

Anwar Ibrahim Hubungi Prabowo: ASEAN Bersatu Sikapi Tarif Trump!

Sabtu, 5 Apr 2025 - 18:48 WIB