Okupansi Hotel Lebaran 2025 Anjlok 20%: PHRI Ungkap Penyebabnya, Daya Beli Melemah

- Penulis

Rabu, 2 April 2025 - 13:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ragamutama.com, Jakarta – Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, melaporkan penurunan signifikan tingkat hunian hotel selama libur Lebaran 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini, menurut Hariyadi, terjadi hampir di seluruh Indonesia, terutama di destinasi wisata populer seperti Bali, Solo, dan Yogyakarta. “Berdasarkan pengecekan saya, rata-rata terjadi penurunan sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya saat ditemui di kawasan Widya Chandra, Jakarta, Selasa, 1 April 2025.

Selain penurunan jumlah pemesanan, terdapat pula pergeseran pola pemesanan. Hariyadi mencatat, masyarakat baru memesan kamar menjelang H-2 Lebaran. “Masa menginap pun lebih singkat, rata-rata hanya 4 atau 5 hari, tidak sampai 7 hari seperti biasanya,” tambahnya.

Ia menduga, penurunan ini disebabkan oleh melemahnya perekonomian nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah. Jika tren ini berlanjut, Hariyadi khawatir akan berakibat fatal, termasuk potensi PHK massal. “Tentu, hal ini sangat bergantung pada langkah-langkah pemerintah selanjutnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Harga Emas Naik Rp2 Ribu per Gram, Ini Rinciannya

Sebagai contoh nyata, sudah tercatat 150 karyawan di industri perhotelan yang terkena PHK akibat penutupan dua hotel di Bogor, Jawa Barat. Kedua hotel ini hanyalah sebagian kecil dari dampak melemahnya daya beli masyarakat.

Hariyadi memprediksi penutupan hotel akan terus terjadi jika pemerintah tidak segera memberikan stimulus ekonomi, khususnya dengan melepaskan anggaran yang sebelumnya diefisiensikan. “Pelepasan anggaran ini penting untuk menggerakkan kembali perekonomian. Apalagi di kuartal pertama ini, pemerintah terkesan belum maksimal dalam mengeksekusi belanja anggaran,” tegas Hariyadi.

Anjloknya daya beli masyarakat tercermin dari deflasi yang terjadi di awal 2025. Pada Februari, terjadi penurunan harga sebesar 0,1 persen secara tahunan, merupakan tingkat deflasi terendah sejak Januari 2000 (1,1 persen).

Baca Juga :  Muslim Terbesar, Indef Minta Potensi Pasar Keuangan Syariah Digali

Mengutip laporan Tempo berjudul ‘Mengapa Ekonomi Lebaran 2025 Lesu’, Dzulfian Syafrian dari Institute for Development of Economics and Finance menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah penurunan kualitas pekerjaan. Meskipun jumlah lapangan kerja bertambah, banyak yang bersifat informal dengan pendapatan tidak tetap. “Kondisi ini membuat pendapatan rumah tangga menjadi tidak menentu, terutama saat Lebaran ketika konsumsi biasanya meningkat,” tuturnya pada Selasa, 25 Maret 2025.

Pilihan Editor: Hotel di Bandung Kurangi Pekerja Sejak Februari Terdampak Efisiensi Anggaran Pemerintah

Berita Terkait

Perang Dagang Memanas, Kripto Tertekan: Platform Ungkap Bukti Cadangan Aset
Pendapatan Sumber Global Energy (SGER) Naik 19,9% pada 2024
Ancaman Pelemahan IHSG: Pasar Menanti Respon Pemerintah Terhadap Tarif Impor Trump
Tarif Trump Ancam Komoditas Ekspor: Pengusaha Logistik Ungkap Dampaknya
Serangan Siber Mengancam? Bank DKI Jamin Dana Nasabah Aman Terlindungi
Ekonom Ungkap Peluang Emas RI Raih Kemajuan Besar Lewat Kebijakan Tarif Trump
Murni Teguh Hospital Group Raih Lonjakan Laba Bersih 119% di Tahun 2024
Kenaikan Tarif Trump: Pasar Panik, Saham Dunia Ambruk

Berita Terkait

Jumat, 4 April 2025 - 14:43 WIB

Perang Dagang Memanas, Kripto Tertekan: Platform Ungkap Bukti Cadangan Aset

Jumat, 4 April 2025 - 14:31 WIB

Pendapatan Sumber Global Energy (SGER) Naik 19,9% pada 2024

Jumat, 4 April 2025 - 13:39 WIB

Tarif Trump Ancam Komoditas Ekspor: Pengusaha Logistik Ungkap Dampaknya

Jumat, 4 April 2025 - 13:35 WIB

Serangan Siber Mengancam? Bank DKI Jamin Dana Nasabah Aman Terlindungi

Jumat, 4 April 2025 - 12:43 WIB

Ekonom Ungkap Peluang Emas RI Raih Kemajuan Besar Lewat Kebijakan Tarif Trump

Berita Terbaru